Peluang Ethno Spa Indonesia jadi Penambah Devisa Negara dari Health Tourism In:SPA, ethno, tradisional
503 623 135

Lima lembaga yang fokus pada aktifitas bisnis san pendidikan spa menggelar seminar bertajuk “Creative Solution For The Spa Business” di Perum Griya Martanadhi, No B 11, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Bali pada Selasa, 24 September 2019.

Seminar tersebut diikuti para pelaku bisnis dari 38 perwakilan hotel dan spa se-Pulau Bali. Seminar juga menghadirkan para pakar spa, pembicara, pelaku bisnis spa, para terapis dan sejumlah pejabat terkait industri pariwisata ini.

Beberapa aktifis dari lembaga yang bergerak di bidang kesehatan dan kebugaran ini pun turut mendukung acara tersebut. Seperti Indspa, Whea, IMWA, Natural Bali dan Essentia Spa Academy.

Dalam seminar itu terungkap bahwa spa sudah menjadi bagian dari dunia usaha yang dikemas secara moderen dan profesional serta diakui negara

“Mengelola usaha spa harus profesional. Sudah ada standar baku yang ditetapkan oleh negara. ,” ujar ketua LSU Tirta Nirwana Indonesia, Firmansyah Rahim

Menurut Firmansyah, usaha spa, tak hanya dikelola mengikuti perkembangan zaman. Tapi juga harus mengikuti aturan dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ( SKKNI) yang sudah ditetapkan pemerintah.

“Di antaranya, manajer spa harus mengikuti training atau pelatihan yang diselenggarakan lembaga kredibel dan pengalaman dalam dunia spa,” terang Firman.

Setelah mendapat sertifikasi training, lanjutnya, kemudian harus melalui tahap uji kompetensi yang diselenggarakan negara melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Tirta Nirwana Indonesia.

Setelah mengikuti uji kompetensi, baru mendapatkan sertifikasi dari lembaga negara dan itu pun hanya berlaku selama 3 tahun.

“Setelah 3 tahun berakhir, harus memperbaharui sertifkasi dengan kembali mengikuti uji kompetensi lembaga profesi negara,” paparnya.

”Melalui seminar ini kita ciptakan ethno wellness sebagai jiwa raga,” tambah Firman.

Ketua Indonesia Spa Professional Association (Indspa) Yulia Himawati, menyatakan, melalui seminar ini, Indspa bertekad akan membuka peluang pekerjaan seluas-luasnya dalam industri spa nasional.

“Bahkan lebih dari itu, Indspa ingin menciptakan industri spa Indonesia dapat diakui dunia. Terlebih kita memiliki ethno wellness yang memang asli budaya tanah air,” ujarnya.

Menurut Yulia, dari sisi ketenagakerjaan, industri spa menjadi lahan untuk membantu pemerintah dalam menyerap tenaga kerja dan mengurangi jumlah pengangguran.

”Industri spa sangat terkait langsung dengan petani rempah. Karena memang spa butuh akan aromaterapi, minyak atsiri yang dihasilkan dari para petani rempah,” ujarnya.

Industri spa juga dapat memberikan lahan baru bagi petani-petani rempah untuk terus meluaskan lahan pertaniannya.

“Sayangnya, kekayaan rempah di tanah air belum banyak yang bisa mengelola menjadi bahan jadi. Indonesia hanya menjadi eksportir sekaligus importir bahan jadi yang asalnya dari negeri sendiri,” terangnya.

Yulia mencontohkan parfum atau aromaterapi yang banyak beredar di pasaran. Semua bahan bakunya berasal dari tanah air.

“Parfum misalnya, 90% bahan pewangi berupa minyak atsiri tersebut berasal dari tanah air. Tapi diproduksi menjadi bahan jadi parfum di negara lain. Konyolnya, parfum yang sudah jadi dijual lagi di dalam negeri dengan harga tinggi,” paparnya.

Yulia menegaskan, sudah saatnya Indonesia menjadi maskot dunia dalam industri spa. Karena Indonesia juga kaya akan ethno spa.

“Ada budaya di dalam terapi spa. Spa tradisional ini yang perlu kita kembangkan agar dikenal dunia luar,” papar Yulia.

Pakar spa Indonesia Agnes Lourda Hutagalung menegaskan bahwa spa asli Indonesia yang sudah ditetapkan dalam SKKNI sebanyak 15 ethno wellness.

” Mulai dari ethno spa Aceh, Sumbar, Sunda, Betawi, Semarang, Madura, Bali, Timor dll. Dan ternyata masih banyak lagi ethno wellness lainnya yang bisa digali. Butuh dukungan pemerintah dalam hal melestarikan budaya asli Indonesia ini,” paparnya.

Di Bali ini, misalnya Lourda mencontohkan, ethno spa Bali sudah mendunia. Bahkan mendapatkan penghargaan Internasional.

“Ethno spa sudah seharusnya menjadi health tourism (wisata kesehatan) bagi waisatwan mancanegara. Program ini harus terus kita gaungkan agar industri spa dalam negeri makin berkembang. Dengan demikian menjadi lahan untuk menambah devisa negara,” tandasnya.(*)

 

By Gaya SPA - Minutes - Words.

Back to Blog-List
Back to Top