Ethno Wellness Indonesia Sudah Dikenal Dunia, SDM-nya Harus Kompeten, Berkualitas dan Kuasai Skill In:SPA, ethno, tradisional
503 623 135

Ethno wellness spa Indonesia dinilai sudah mampu bersaing dengan spa asal negara lain. Sebagai upaya meningkatkan kualitas ethno spa Indonesia, para pengusaha spa harus memahami regulasi yang sudah ditetapkan pemerintah melalui Permen Parekraf no 24 no 2014. Para pengusaha spa juga harus memiliki standar usaha spa.

“Usaha Spa Indonesia merupakan jenis usaha perawatan tubuh dengan metode kombinasi terapi air, terapi aroma, pijat, rempah-rempah, layanan makanan atau minuman sehat, dan olah aktivitas fisik dengan tujuan menyeimbangkan jiwa dan raga. Namun tetap dalam tradisi dan budaya bangsa Indonesia,” Ketua LSU Tirta Nirwana Indonesia Firmansyah Rahim saat seminar tentang usaha spa bertema “Creative Solution for The Spa Buisness” di Perum Griya Martanadhi, No B 11, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Bali pada Selasa, (24/9/2019).

Ketua LSU Tirta Nirwana Indonesia Firmansyah Rahim.

Menurut Firmansyah, ketika akan membuat sebuah bisnis spa, harus dimulai dari perizinannya. Kemudian, usaha spa dibangun sesuai positioningnya mau seperti apa. Karena usaha spa hampir sama dengan usaha hotel, ada standarnya.

“Apakah spa yang mau dibangun itu berstandar Tirta I, Tirta II atau Tirta III, tergantung keinginan pengusaha itu,” jelas Firmanyah

Pemenuhan dan pelaksanaan standar usaha spa sebagaimana diatur dalam Permen Parekraf No 24 Tahun 2014, standar usaha bagi spa Tirta 3, harus meliputi minimal produknya terdiri dari 5 unsur dan 40 sub unsur . Standar usaha spa Tirta 2, minimal memiliki produk, yang terdiri dari 5 unsur dan 36 sub unsur. Sementara standar usaha spa Tirta 1 harus memiliki produk yang terdiri dari 5 unsur dan 21 sub unsur.

Tak hanya itu, Firman mengatakan, pengusaha spa harus memiliki sertifikasi usaha spa untuk mendukung peningkatan mutu produk, pelayanan dan pengelolaan usaha spa melalui audit pemenuhan standar usaha spa.

Sertifikat Usaha Spa ini harus bukti tertulis yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU) Bidang Pariwisata kepada Usaha Spa yang telah memenuhi Standar Usaha Spa. LSU sebagai lembaga mandiri berwenang melakukan sertifikasi usaha di bidang pariwisata sesuai ketentuan peraturan dan perundang-undangan.

“Salah satu kewenangan lembaga ini adalan memberikan pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja bagi para terapis,” tambah Firman.

Agar ethno spa Indonesia mampu bersaing dengan negara lain, Firman menekankan agar SDM yang dimiliki harus kompeten dan menguasai skillnya. Selain melalui pelatihan, SDM spa juga harus bersertifikasi.

“Kalau mau usaha spa, harus ada standarnya. Semuanya harus memahami regulasi. Ada lokal wisdom yang harus dipenuhi. Melengkapi menu-menu yang ada, herbal dan rempah-rempahnya. Termasuk 15 ethno wellness yang sudah ditetapkan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI),” paparnya.

Praktisi ethno wellness Indonesia H. Akhyaruddin menyatakan, ethno wellness Indonesia keberadaannya sudah diakui di kancah internasional. Bahkan ethno spa Indonesia tiga kali berturut-turut menjadi spa terbaik di Inggris.

Menurutnya, spa Indonesia harus menjadi penambah devisa negara. Dengan demikian, turis-turis asing harus mengenal ethno spa Indonesia.

“Tidak melulu taunya Thai Spa, Siatsu atau Swedish spa. Tapi mereka datang ke Indonesia untuk lulur ala Jawa, Batangeh Minang atau nyobain So’oso Madura. Karena spa Indonesia juga punya ada proses mandi uapnya. Pakai herbal yang direbus dan diuapkan,” terangnya.

Apalagi, lanjutnya, Indonesia menjadi penghasil minyak atsiri terbesar diunia. Indonesia juga kaya akan rempah yang menjadi bahan-bahan dalam ethno spa.

“15 ethno spa sudah disahkan SKKNI. Ini harus menjadi daya tarik tersendiri bagi turis-turis mancanegara untuk menjadikan ethno spa Indonesia mendunia,” ujarnya.

Ketua Umum Indonesia Spa Professional Association (Indspa) Yulia Himawati.

Ketua Umum Indonesia Spa Professional Association (Indspa) Yulia Himawati mengatakan, sebagai sebagai lembaga yang bergerak dalam asossiasi spa profesional, pihaknya dapat memberikan pelatihan dan sosialisasi ethno wellness spa bagi membernya sampai mendapatkan sertifikasi.

“Kita juga dapat surat edaran dari Kemenkes supaya terapis spa harus menguasai ilmu anatomi tubuh manusia. Karena spa berhubungan dengan tubuh manusia. Tujuannya supaya saat praktik tidak terjadi kesalahan,” terangnya.

Setelah ikut pelatihan sampai mendapatkan sertifikasi kompetensi, baru terapis tersebut kembali mendaftar sebagai tenaga penyehat.

“Tenaga penyehat ini kepanjangan tangan dari Kementerian kesehatan. Salah satu syaratnya yakni lulus dalam badan nasional sertifikasi profesi. Terapis yang sudah ikut pelatihan, ikut kompetensi oleh LSP. Kalau sudah dapat sertifikat kompetensi lalu jadi tenaga penyehat,” tambahnya.

Agar terdaftar menjadi tenaga penyehat, lanjut Yulia, terapis harus mendapat rekomendasi dari asosiasi dari kemenkes tentang playanan kesehatan tradisional atau Yankestra.

“Yankestra ini diperoleh dari rumah sakit atau Puskesmas setempat. Itu pun setelah terapis mendapatkan sertifikasi. Kalau tidak punya, ya tidak bisa. Bila menjadi anggota asosiasi terapis itu harus profesional,” tandasnya.

Menurut Yulia, terapis itu merupakan bagian dari pelayanan kesehatan tradisional. Dalam penerapannya, terapis bisa memberikan manfaat, keamanan dan terbukti secara empiris.

Penyehat tradisional ini memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman turun temurun atau pendidikan non formal atau melalui magang pada penyehat tradisional senior yang telah memiliki pengalaman memberikan pelayanan kesehatan tradisional empiris secara aman dan bermanfaat paling sedikit 5 tahun.

“Bisa juga diperoleh melalui pelatihan atau kursus yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) yang menjadi mitra dan diakui oleh instansi pembinaan kursus dan pelatihan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Seperti lembaga Indspa yang kami kelola ini,” tutup Yulia.***

 

By Gaya SPA - Minutes - Words.

Back to Blog-List
Back to Top