Gabung Asosiasi dan Ikut Indspa Training Center, Dijamin Pengusaha Spa Bakal Dapat Banyak Benefitnya In:SPA, ethno, tradisional
503 623 135

Menjalankan jenis usaha kebugaran dan kesehatan spa tak terlalu sulit. Namun juga tidak bisa dilakoni secara asal-asalan. Selain harus menguasai berbagai teknik spa, beragam jenisnya, pengelola spa juga harus mengantongi sertifikasi dan kompetensi. Usaha spa juga sudah diatur regulasinya melalui Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI No 24 Tahun 2014 tentang standar usaha Spa.

“Agar mudah dalam menjalankan bisnis ini, sebaiknya pelaku usaha spa mau bergabung dalam asosiasi. Karena lebih banyak manfaatnya,” kata Ketua Indonesia Spa Professional Association (Indspa), Dra Yulia Himawati di tengah seminar bertajuk “Creative Solution For The Spa Business” di Perum Griya Martanadhi, No B 11, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Bali pada Selasa, (24/9/2019).

Sebagai bagian dari pelaku usaha spa, Yulia memberikan semangat kepada para pengusaha yang baru ingin membangun bisnis spa untuk bergabung dalam asosiasi. Selain mudah menjalin hubungan dengan pelaku usaha spa lainnya, ikut asosiasi banyak benefitnya.

Misalnya, memperoleh informasi up to date tentang perkembangan yang terjadi di industri spa secara cepat. Anggota asosiasi juga akan mendapat perlakuan yang jujur dan adil tanpa membedakan status kedudukan, kemampuan ataupun besar kecilnya usaha (bagi anggota yang berbentuk badan usaha).

“Dengan bergabung dalam asosiasi tentu akan lebih mudah memenuhi kebutuhan SDM maupun meningkatkan kualitas SDM. Kelebihan lainnya, anggota asosiasi juga akan memperoleh harga khusus dalam setiap acara (event) yang diselenggarakan oleh asosiasi. Misalnya; penyelenggaraan seminar, kursus, refreshment training, dll. Mendapatkan potongan harga khusus untuk produk dan peralatan yang berasal dari anggota atau penyalur (supplier) yang bekerjasama dengan asosiasi,” terangnya.

Salah satu syarat untuk mengangkat seorang manajer spa, terang Yulia, bukan hanya karena berpengalaman dalam menggeluti dunia spa. Menjadi manajer spa itu sendiri harus mengikuti standar dan aturan yang telah ditetapkan. Harus mendapatkan supervisi untuk mengikuti uji kompetensi sesuai yang ditetapkan Kemenakertrans dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) berdasarkan Kepmenakertrans RI No 46 Tahun 2017..

“Itu juga maksimal harus mengikuti dua kali lulus uji kompetensi dan mendapatkan sertifikasi profesi terkait oleh LSP Tirta Nirwana Indonesia selaku lembaga negara,” tambahnya.

Indspa Training Center yang dipimpin Yulia sudah bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan ESA (Essentia Spa Academy) kepada para calon manajer dan pengusaha yang menempuh program pendidikannya. Selain itu Indspa juga dapat memberikan surat rekomendasi tenaga penyehat tradisional sebagai persyaratan legalitas ijin usaha spa.

“Untuk meningkatkan kualitas, Indspa mengadakan kompetisi tahunan bagi terapis tingkat pratama, madya dan utama terbaik, Wellness Programmer terbaik dan supervisor/koordinator/manager/direktur terbaik.

“Setelah memenuhi persyaratan membangun usaha spa dan bergabung dalam asosiasi, para pengusaha dapat mengakses dan memperluas jaringan melalui offline maupun online yang dibangun asosiasi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Wellness Health & Enterpreneur Association (Whea) Dra Agnes Lourda Mardohar menyatakan, dengan bergabung dalam asosiasi, para pelaku usaha mendapatkan kesempatan yang sama dalam menghadapi regulasi atau pun situasi yang sulit.

“Membangun usaha spa bukan sekadar punya modal. Tapi harus juga diurus perijinannya, pengurusan pajaknya. Kadang mereka yang baru memulai usaha ini akan kebingungan, gimana cara mengurusnya, gimana cara menghitung pajaknya. Dengan bergabung dalam asosiasi semua akan mudah,” ucap wanita yang akrab disapa Lourda ini.

Tak hanya kedua faktor tersebut, kadangkala pengusaha spa pemula terbentur pada peraturan-peraturan yang kurang mendukung usaha yang baru dirintisnya.

“Di dalam asosiasi, para anggota mendapatkan pelatihan sesuai perkembangan global. Kemudahan untuk mendapatkan pelatihan therapist berbasis kompetensi, kemudahan mendapatkan sumber daya manusia spa & wellness berbasis kompetensi,” paparnya.

Menurut Lourda, semua pengusaha ingin bisnisnya berkembang. Mereka bercita-cita usahanya bercabang di mana-mana. Mampu menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya. Dengan begitu ada kebanggaan pada diri pengusaha tersebut karena secara tidak langsung sudah membantu pemerintah dalam mengurangi jumlah pengangguran.

“Di sinilah tugas asosiasi, mereka yang tergabung akan diikutsertakan dalam program marketing terpadu dalam memajukan usaha. Diikutsertakan dalam program pengembangan dari spa menuju wellness bahkan medical spa Membantu usaha anggota agar berada di atas tingkat standar resmi pemerintah,” tambahnya.

Usaha spa juga buka sekadar cari untung. Harus ada kontribusi dalam membangun sumber daya manusianya agar lebih maju. Setelah SDM bagus, kemudian meningkatkan kualitas produk penunjang pelayanan kesehatan promotif, preventif, rehabilitatif dan rehabilisasi.

Lourda mengungkapkan, usaha spa sama seperti usaha hotel. Ada tingkatannya, ada kelasnya. Kalau hotel, ad akelas melati, ada bintang tiga, bintang empat atau bintang lima. Begitu juga spa. Ada klasifikasinya. Ada spa Tirta 1, Tirta 2, Tirta 3.

“Klasifikasi ini tergantung pada kelengkapan usaha spa. Tentu saja kelengkapan untuk mendapatkan level tertinggi harus melalui proses. Jangan memaksakan kemampuan terbatas hanya untuk mendapatkan level teratas sementara modal terbatas,” ingatnya.

Lourda yang sudah pengalaman puluhan tahun menggeluti spa, untuk mendapatkan level tertinggi dan mendapat tempat di hotel-hotel bintang lima nasional dan internasional juga melalui proses yang panjang.

“Baru buka usaha sudah menggebu-gebu, sementara modal terbatas. Ruangan spa baru punya satu. Peralatan seadanya, terus mau mengangkat manajer. Ini nggak masuk akal. Mendingan dia merangkap dulu pemilik sekaligus manajer. Atau malah justru juga menjadi therapisnya. Kalau usaha sudah kelihatan berkembang, barulah naik pada level selanjutnya,” paparnya.

Untuk klasifikasi spa itu sendiri, Ketua Indonesia Spa Professional Association (Indspa), Dra Yulia Himawati menjelaskan, untuk kelas Tirta I tetap ada terapi air sebelum massage, terapi pijat (foot spa and hand spa), terapi rempah dan herbal, minimal punya satu terapis.

“Standar usaha Tirta I nggak usah pakai peralatan atau bahan yang mahal-mahal. Yang penting saat hidro terapi ada bunga-bunganya, ada nozlenya, ada alat ukur suhu. Minimal memakai lima jenis misnyak atsiri untuk relaksasi. Pakai yang asli Indonesia, tapi jangan juga pakai abal-abal. Terapi pijat minimal satu jenis. Misalnya pakai Japanese massage. Ada terapi rempahnya. Ditambah terapi pikiran melalui musik dan warna. Cukup dengan ruangan berwarna soft atau natural sudah memberikan terapi pikiran,” urainya.

Kemudian untuk Tirta II, ruangan dan peralatannya lebih banyak. Misalnya ditambah dengan facial atau totok wajah. Ditambah terapi panas, ada yang menggunakan selimut, sauna, kain yang dipanaskan sebagai olah fisik.

Untuk level Tirta III (high class spa), peralatannya lebih banyak lagi dari Tirta II. Misalnya ada tambahan terapi lumpur. Bukan sembarang lumpur, tapi lumpur yang bisa mencerahkan wajah. Ada juga terapi ganggang dan menyediakan 10 jenis minyak atsiri sebagai terapi aroma.

“Teknik massage nya pun tak hanya Thai massage , Swedis atau Japanese, tapi juga Ethno Wellness Spa Indonesia yang saat ini mulai trend di spa level Tirta III,” sebut Yulia.

Meski masih di level Tirta I, sebuah usaha spa akan menarik banyak pelanggan bila didukung dengan tenaga marketing yang inovatif.

“Ada sebuah spa, levelnya masih Tirta II, tapi dalam sekejap bisa menarik minat banyak wanita untuk datang. Mereka kebanyakan ibu-ibu yang baru melahirkan. Ternyata mereka tertarik dengan tagline “back to virgin” yang dibuat marketing spa tersebut. Promosinya, setelah melahirkan, ibu-ibu muda yang lahir normal kalau dimassage nggak perlu nunggu 40 hari kembali menjadi gadis lagi, rapet lagi,” tandasnya.*

 

By Gaya SPA - Minutes - Words.

Back to Blog-List
Back to Top